Statement bahwa oknum yang menggunakan surat Al Maidah pengecut seperti yang diutarakan Ahok sangat tendensius. Kalau kita menarik lagi jauh ke belakang orang yang pertama menyampaikan Al Qur’an termasuk di dalamnya surat Al Maidah adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Kalau oknum yang menggunakan surat Al Maidah adalah pengecut maka sahabat nabi, ulama-ulama terdahulu dan ulama-ulama sekarang menurut Ahok juga seorang pengecut.
Masalahnya adalah siapa yang pengecut? Di dalam surat Al Maidah ayat 51 jelas tertulis bahwa dilarang memilih pemimpin yahudi dan nasrani. Kalau Ahok bukan pengecut tentu dia akan bertarung secara jantan tanpa memakai ayat-ayat suci agama yang tidak di anutnya. Disini terlihat bahwa Ahok lah yang pengecut. Statement-statement Ahok hanya berdasarkan logika dia sendiri dan mungkin juga dari pendukung-pendukungnya. Berbagai statement bohong tanpa pertimbangan yang matang dia lontarkan. Statement-statement yang tidak tepat tersebut melukai hati umat Islam, seolah-olah ada yang salah dengan kita suci Al-Qur’an.
Kalau ada orang yang hanya melihat masalah menggunakan satu mata, mata dajjal juga satu lho, maka view yang tampak tidak akan memberikan informasi yang cukup untuk di olah otak. Contohnya jika anda melihat dengan dua mata tulisan “PANTAI LOSARI” akan terlihat full “PANTAI LOSARI”. Namun ketika anda melihat dengan sebelah mata, mungkin anda hanya dapat membaca “TAI LO”, nah keluar deh yang kotor-kotor. Begitulah sudut pandang, semakin besar kita membuka mata maka sudut pandang kita juga akan lebih luas. Begitu juga halnya ketika kita tidak melihat permasalahan dengan pikiran yang jernih maka warna kehidupan tidak akan memberikan informasi yang akurat. Ahok harus belajar bahwa warna hitam tidak akan ada kalau warna putih tidak ada. Pertimbangan sebelum menyampaikan pendapat sangat penting diperhatikan oleh public figure. Ahok harus sadar dia adalah public figure, statement yang kurang tepat berpotensi memecah belah bangsa, apalagi statement yang salah mungkin saja akan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

No comments:
Post a Comment