• Breaking News

    Saturday, 31 December 2016

    Ahok Seperti Suami Yang Sudah Lama Tidak Dapat "Jatah"



    Menarik untuk disimak selama masa kampanye pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Ada 3 kandidat calon Gubernur DKI yang di usung oleh partai, yaitu Agus, Ahok dan Anis. Yang paling menarik perhatian saya adalah Ahok. Dalam drama Pilkada DKI kali ini, bagi saya Ahok beperan sebagai pihak antagonis dan peran antagonis adalah peran yang sangat sulit dimainkan kecuali pemerannya menjiwai peran tersebut. Contohnya Heath Ledger, pemeran sosok antagonis  the Joker pada film Batman The Dark Knight. Film Batman The Dark Knight enak untuk di tonton salah satunya karena peran The Joker. Bahkan sang sutradara, Christopher Nolan, kesulitan mencari pengganti Ledger setelah Ledger meninggal. Sampai-sampai Nolan mempertimbangkan untuk menggunakan CGI untuk menghidupkan peran Ledger. Semua ini dilakukan Nolan semata-mata karena kesempurnaan karakter Joker yang mampu dibawakannya. Dan tahukah anda bagaimana Ledger meninggal? Ledger ditemukan meninggal di apartemennya di daerah SoHo, New York City pada tanggal 22 Januari 2008. Hasil forensik menunjukkan bahwa ia meninggal karena efek samping enam macam obat yang dikonsumsi dalam waktu bersamaan. 

    Kita sering melihat peran antagonis di film-film bukan? Ahok yang dulu suka bicara kasar sampai memaki sekarang berubah menjadi “penyabar” (sedikit sulit bagi saya ketika mengetikkan keyboard untuk kata “penyabar” ini). Di Balaikota Ahok memaki seorang Ibu Muda, Yusri Isnaeni, padahal Yusri hanya berniat mengadu serta mempertanyakan mekanisme penggunaan KJP, seperti berita yang di rilis kompas.com pada 15 Desember 2015. "Ibu kenapa cairin duit KJP di toko? Ini bukan tokonya yang salah, melainkan ibu yang salah," kata Ahok. "Bukan cuma toko yang maling. Ibu juga maling. Catat namanya, periksa, penjarain aja dia," kata Ahok ketus sambil terus menunjuk-nunjuk wanita itu. Bagi si Ibu dan keluarganya tentu mengalami tekanan psikologis, sang anak yang juga siswi di SD Al Khairiyah, Jakarta Utara, diolok-olok oleh temannya. Anaknya menjadi bahan pergunjingan di sekolah serta lingkungan rumahnya. Apakah Ahok memikirkan efek omongannya? tentu saja tidak, ini bukan masalah bagi Ahok. 

    Lihat juga bagaimana Ahok menggunakan kata-kata yang tidak pantas saat wawancara live di Kompas TV, Selasa malam, 17 Maret 2015. Presenter Kompas TV saat itu, Aiman Witjaksono sudah mengingatkan kepada Ahok bahwa wawancaranya ini disiarkan secara live. 

    "Kita sedang live, Pak Ahok," ujar Aiman saat itu. 

    "Nggak apa-apa. Kalo bukan ta*k apa, kotoran. Biar orang tau ta*ik gw bilang," jawab Ahok. 

    Perubahan sikap Ahok terjadi saat masa kampanye 

    Ahok yang sebelumnya begitu garang, serangan mulutnya begitu mematikan karena menggunakan kata-kata yang kebanyakan dari kita tidak mampu menggunakannya, karena kata-kata tersebut tidak ada dalam “kamus”. Ahok sekarang menjadi lebih “penyabar” terutama pasca ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama. Kasus yang membuat langkahnya menuju DKI 1 menjadi begitu berat, sampai-sampai harus berbohong di depan hakim pengadilan dengan menyebut Jenderal Jusuf saudara kandung ayah angkatnya. (baca:  4 Keterangan Ahok Yang Terbantahkan Pada Sidang Perdananya).

    Albert Einstein pernah berkata "Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted with important matters". "Siapa saja yang tidak peduli dengan kebenaran dalam hal-hal kecil  maka dia tidak bisa dipercaya dengan hal-hal penting". Lantas pantaskah kita memilih Ahok?

    Perubahan sikap Ahok bagi saya cuma sekedar untuk mendapatkan suara pada saat Pilkada. Saya setuju dengan pendapat Siti Zuhro, pengamat politik dari LIPI. Siti mengatakan bahwa Ahok akan kembali ke karakter lamanya, yang dianggap suka marah-marah, bicara kasar dan ceplas-ceplos. Apalagi, lanjut Siti, karakter asli seseorang sulit untuk disembunyikan. Menurut saya, Ahok sama seperti seorang suami pemarah yang sudah lama tidak dapat “jatah” dari istrinya. Anda tahu yang dilakukan seorang suami yang ingin mendapatkan kembali “jatah” dari istrinya, dia akan bersabar dan membuat hati istrinya senang bukan? Ketika si suami sudah dapat jatah dia akan kembali ke karakter aslinya. “Women often complain that they change their identity for a man they love, but the man never changes for them”, 

    "Kalau karakter itu ya tetap karakter. Karakter, apalagi di atas umur 30 tahun itu sudah melekat. Jadi enggak ada karakter itu yang dibikin-bikin sampai Februari, itu enggak ada. Karakter ya karakter," kata Siti. 

    Simak saja analisa Siti Zuhro, "Ya iya lah (hanya untuk kampanye). Kan sedang jualan politik sekarang," kata Siti seperti yang di rilis detik.com, Rabu (30/11/2016) 

    Analisa yang sama juga dilontarkan oleh salah satu lawan politik Ahok, Anis Baswedan, simak saja penuturan Anis, " Ada juga pemimpin yang dulu sering bicara kasar, lalu berubah santun hanya saat kampanye," ujar Anies seperti dilansir detik.com, Jumat (23/12/2016). 

    Kenapa Ahok kembali ke Karakter Lamanya Jika Menang Pilkada 

    Coba kita telaah berita kompas.com, 16 November 2016 dengan judul “Ahok Bicara Tersangka dan Nasib Nelson Mandela yang Jadi Presiden”. "Mandela dipenjara 30 tahun bisa jadi presiden. Siapa tahu gue jadi presiden, kan enak. Ngapain pusing," kata Ahok tertawa. Ahok ingin jadi presiden dengan cara yang sangat berbeda berbeda dengan Nelson Mandela. Kalau anda suka bermain di pasar modal, saya mengibaratkan Mandela menggunakan analisis fundamental sedangkan Ahok menggunakan analisis teknikal. Dengan menggunakan analisis teknikal Ahok mungkin berharap cerita Nelson Mandela akan terulang pada dirinya. Kalau anda suka dengan fisika, saya mengibaratkan Mandela adalah medan magnet sedangkan ahok medan listrik. Kedua medan tidak akan pernah berada pada bidang yang sama. 

    Nelson Mandela terkenal karena menghilangkan politik Apartheid di Afrika Selatan. Politik yang memisahkan kulit hitam dan kulit putih. 

    Lihatlah berita detik.com yang dilansir pada selasa (27/12/2016) “Ahok: Jika Menang 1 Putaran, Kita Permalukan Orang yang Menyudutkan”. Coba anda bayangkan bagaimana bisa seorang pemimpin berkata seperti ini. Katakanlah Ahok menang 1 putaran, coba anda bayangkan apa yang akan dia lakukan? Apakah anda masih berpikir orang ini mirip Nelson Mandela. Lihatlah quote dari Nelson Mandela berikut: 

    “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner. “ 

    “Jika anda damai dengan musuhmu, kamu harus bekerjasama dengan musuhmu. Kemudian menjadi partner mu.” 

    Nah, kalau ahok menang satu putaran apa yang akan terjadi? Ya tepat seperti dugaan anda, langkah pertamanya adalah nyinyir. Budaya nyinyir ini sudah menjadi wabah dan menjangkiti cebongers. Anda lihat saja ketika dunia berduka atas kekejaman perang di Aleppo, cebongers malah nyinyir. Contoh dalam realita sehari-hari, kalau mereka tidak mau membantu orang orang sekarat akibat tabrakan setidaknya mereka tidak perlu nyinyir bukan? Kalau anda penggemar sepakbola, ketika Cristiano Ronaldo mengerang kesakitan akibat tackle apakah Lionel Messi akan nyinyir? (mohon maaf kepada penggemar CR7, Real Madrid dan Portugal, saya tidak ada bermaksud menyindir) Kalau Messi melakukannya, Messi akan mendapatkan hukuman karena tidak menunjukkan sikap respect. Kalau Ahok menang pada pilkada kali ini, dia pasti nyinyir dengan mempermalukan lawan-lawannya bukan? Jangan berharap dia merangkul lawan politiknya menjadi partner seperti yang Mandela lakukan. 

    Selama kampanye Ahok tidak dapat melakukan kebiasaannya, dia menunggu sampai selesainya pilkada untuk kembali ke karakter aslinya, sama seperti seorang suami yang sudah lama tidak mendapatkan “jatah”. Setelah mendapat jatah maka dia akan kembali ke karaker aslinya. 

    No comments:

    Post a Comment

    Islam

    Politik

    Sejarah