Berikut adalah isi surat Surat Snouck pada Carl Bezold tanggal 18 Februari 1886 yang disimpan di Arsip Perpustakaan Universitas Heidelberg
“Die frage wiefen man in dieser accomodation gehen kann, sei jeder,amms privatsache, wie alle gewissensfragen. Solite aber wegen annehmung des muslimischen characters die glaubwürdigkeit und der werth des ehrenworts einer person in frage gestellt werden, so hatte ich in dieser beziehung berühmte genossen : Burchardt, Burton und monsieur Leon Roches, ministre plénipotentiare de la France en retarite welcher neulich in seinem ‘Trente deux ans á traves l’Islam’ beschrieben hat, wie er Nordafrika, Egypten und Arabien als Muhammedaner.”
(Pertanyaan sejauh mana orang dapat melangkah menyesuaikan diri merupakan urusan pribadi masing masing, sebagaimana semua masalah keinsafan batin. Namun karena penerimaan sebagai Muslim bisa dipercaya, dan nilai sumpah (syahadat) saya tidak dipertanyakan, maka dalam hal ini saya punya kawan termasyhur seperti Burckhardt, Burton dan Leon Roches, mantan menteri Prancis yang baru menulis buku ‘Trente Deux Ans A Travers l’Islam [Tiga Puluh Dua Tahun Menjalajahi Dunia Islam] bagaimana ia menjelajahi Afrika Utara, Mesir dan negeri Arab dengan menyamar sebagai seorang pengikut Muhammad).
Setelah kembali dari Mekkah, Snouck kemudian kembali ke Belanda dan mulai menulis buku tentang pengalamannya di Kota Suci. Buku tersebut berisikan tentang cara-cara dan praktek penduduk Mekkah, temannya Raden Aboe Bakar membantu penulisan buku tersebut dengan mengirimkan informasi tambahan untuk menyempurnakan buku tersebut. Dengan cara ini Snouck mampu menerbitkan buku "Mekkah" pada tahun 1888. Dan buku ini membuat dia terkenal di seluruh dunia sebagai orientalis. Meskipun sekitar 100 dari 300 halaman buku, yang meliputi deskripsi dari kehidupan pribadi orang Mekah dan biografi dari Ulama Indonesia tinggal di Mekkah, didasarkan pada surat Raden Aboe Bakar, Snouck tidak pernah mengakui dukungan yang ia terima dari Aboe Bakar dan Ia menyatakan seluruh isi buku tersebut murni usaha dia sendiri.
Buku ini membuat Snouck menjadi seorang orientalis terkenal di Universitas Leiden dan Universitas Cambridge, kedua universitas ini menawarinya kursi fakultas untuk departemen Arab dan Islam. Tapi Snouck menolak kedua tawaran tersebut karena ia ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang Islam. Penelitian tersebut kemudian ia lakukan pada koloni Belanda di Indonesia. Untuk tujuan ini Snouck meninggalkan Belanda pada 1 April 1889 dan menuju Indonesia. Selama di Indonesia Snouck menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim dengan nama Abdul Ghaffaar. Dan ia melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia dan didampingi oleh orang Indonesia, Raden Hadji Hasan Moestafa dari Garut, mereka bertemu saat berada di Mekkah. Selama perjalanannya Snouck teratur memberikan kontribusi kepada Koran Belanda "De Locomotief" (diterbitkan di Indonesia) dan "Nieuwe Rotterdamsche Courant" (diterbitkan di Belanda). Dalam artikel itu ia menggambarkan cara orang Jawa hidup. Untuk artikel ini Snouck menggunakan nama samaran "Toekoe Mansoer" dan "Toekoe Si Gam".
Berikutnya dari tanggal 16 Juli 1891 sampai awal Februari 1892 Snouck tinggal di Aceh. Snouck adalah orang Belanda pertama yang pernah belajar bahasa Aceh. Pada tahun 1900 ia kemudian menerbitkan sebuah buku tentang subjek ini, yang berjudul: "Studi dalam bahasa Aceh (Atjehsche taalstudiën)". Perjalanan ini dilakukan bersama-sama dengan Raden Hadji Hasan Moestafa asal Garut. Snouck juga melakukan perjalanan ke pesantren-pesantren di Aceh, untuk mengembangkan wawasan pendidikan agama dari daerah. Atas dasar perjalanan ini Snouck kemudian menerbitkan buku "Orang-orang Aceh (De Atjehers)", dalam dua volume antara 1893 dan 1894. "De Atjehers" adalah buku antropologi yang menggambarkan semua aspek kehidupan masyarakat Aceh, situasi politik mereka, agama, bahasa, tradisi dan adat istiadat mereka, dan sebagainya. Dalam laporan tentang situasi agama-politik di Aceh, Snouck sangat menentang penggunaan taktik teror militer terhadap rakyat Aceh dan sebaliknya menganjurkan spionase terorganisir sistematis dan memenangkan dukungan dari elit aristokrat.
Snouck mendekati ulama Aceh untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.
Pada tahun 1898 Snouck menjadi penasihat terdekat Kolonel Van Heutsz dalam "menenangkan" Aceh dan nasihatnya berperan dalam membalikkan keberuntungan Belanda dalam mengakhiri Perang Aceh yang berlarut-larut. Hubungan antara Heutsz dan Snouck memburuk ketika Heutsz terbukti tidak mau menerapkan ide Snouck untuk administrasi dan etika tercerahkan.
Pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa membalikkan metode dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Ini menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk. Di tahun yang sama, Snouck menikahi wanita pribumi lain dan memiliki seorang putra pada tahun 1905. Kecewa dengan kebijakan kolonial, ia kembali ke Belanda tahun 1906 menjadi profesor bahasa Arab di Universitas Leiden.

No comments:
Post a Comment