Christiaan Snouck Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di kota Oosterhout, Belanda. Ayahnya bernama Jacob Julianus Snouck Hurgronje (1812 - 1870), seorang pendeta di gereja Belanda-Reformed Protestan. Sebelum Snouck Hurgronje lahir, ayahnya, Jacob, diusir dari gereja karena berselingkuh dengan Anna Maria de Visser (1819 - 1892), pada saat itu Jacob sudah menikah dengan Adriana Magdalena van Adrichem (1813-1854). Setelah Adriana meninggal, Jacob akhirnya menikah Anna Maria dan dia diperbolehkan kembali ke gereja. Dari pernikahannya dengan Anna Maria, Christiaan akhirnya lahir.
Setelah menyelesaikan sekolah tinggi di kota Breda pada tahun 1874, Christiaan Snouck Hurgronje kemudian pindah ke Leiden untuk belajar teologi. Ia menerima gelar doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya 'Het Mekkaansche feest' ("Perayaan Mekah"). Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881.
Sebelum berangkat ke Jeddah, Snouck sempat menulis di De Indische Gids. membantah pendapat L.W.C. Van den Berg tentang istilah Mohamedaanshce Priesters (kaum pendeta Muhammad), karena menurut Snouck, tidak ada sistem kependetaan dalam Islam. Dan tak ada upacara pentasbihan pendeta sebagaimana dalam gereja. Dalam sistem masyarakat Islam, siapa saja bisa menjadi ulama dan Imam karena masyarakat sendirilah yang menilai dan mentasbihkan mereka sebagai ulama. Agaknya celah inilah yang dilihat oleh Snouck bahwa dirinya pun bisa menyusup ke dalam masyarakat Islam dan mendapat predikat ulama.
Pada akhir tahun 1884, Snouck Hurgronje datang ke Jeddah dan tinggal di sana selama lima bulan. Melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah, Snouck menjalani pemeriksaan oleh delegasi ulama dari Mekkah pada tahun 1884 sebelum masuk Mekkah. Setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci muslim Mekkah pada 1885. Kemudian Snouck memasuki kota Mekah dengan mengganti namanya menjadi Abdul Gaffar dan tinggal di sana selama tujuh bulan. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya
Setelah itu Snouck tinggal bersama-sama dengan Aboe Bakar Djajadiningrat (1854-1914), Aboe Bakar Djajadiningrat adalah salah satu dragomans (dragomans alias informan yang merupakan orang Indonesia atau orang Jawa) yang menjadi informan buat Belanda sejak 1885. Ia bertugas melaporkan ibadah haji orang Indonesia kepada Konsulat Belanda di Jeddah.
Sebagai wisatawan perintis, ia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam. Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim (hipokrit) seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg.
Sumber:

No comments:
Post a Comment